ANALISIS AKUISISI PELANGGAN OLEH OPERATOR-OPERATOR TELEKOMUNIKASI DAN CHURN RATE

Posted: November 1, 2008 in Uncategorized

Profil Telekomunikasi Indonesia 2008

Sejak diberlakukannya Undang-undang No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, Indonesia memasuki babak liberalisasi di sektor telekomunikasi, dan sejak itu, industri telekomunikasi menikmati perkembangan yang sangat pesat. Indonesia, sebagai negara dengan wilayah yang sangat luas dan dengan jumlah penduduk yang sangat besar, terbesar ke-empat didunia, potensi pasar bisnis telekomunikasi sangatlah besar. Hal ini menarik minat banyak investor asing dan domestik untuk masuk dalam bisnis ini. Kenyataannya, sebagian besar operator telekomunikasi di Indonesia (kecuali PT. Telkom) mengandung kepemilikan asing di dalamnya.

Terlepas dari kondisi potensi pasar yang demikian besar tersebut, sebenarnya Industri Telekomunikasi nasional masih menghadapi berbagai permasalahan yang menghambat perkembangannya. Sebagai negara kepulauan dimana sebagian besar wilayah Indonesia terdiri atas wilayah lautan, telekomunikasi memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga kedaulatan negara dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasionalnya. Akan tetapi, pada kenyataannya, faktor kondisi geografis tersebut justru sebagai penyebab tingginya biaya investasi yang dibutuhkan untuk membangun akses telekomunikasi kepada seluruh rakyat Indonesia. Hal ini terlihat dari relatif masih rendahnya densitas telekomunikasi nasional. Sejak tahun 2003, densitas telepon tetap (fixed wireline) stagnan di angka 3,8 sambungan per 100 penduduk, sedangkan untuk fixed wireless access / FWA pelanggannya meningkat dari 1,69 juta di tahun 2004 menjadi 10,82 juta pelanggan di tahun 2007 yang dilayani oleh tiga operator.[1] Untuk layanan telepon seluler, sampai Juni 2008 dilayani oleh delapan operator dengan jumlah pelanggan yang cenderung terus meningkat, yaitu dari 6,3 juta pelanggan ditahun 2001 menjadi lebih dari 93 juta pelanggan di tahun 2007 yang lalu. Dengan kata lain, telepon seluler selama periode tahun 2001 – 2007 menikmati pertumbuhan pelanggan rata-rata sebesar 56,2 persen per tahunnya, dimana pada tahun 2007 yang lalu, sekitar 96,6 persen pelanggannya merupakan pelanggan pra-bayar. Di lain pihak, penyelenggara layanan 3G di Indonesia ada lima perusahaan dengan pelanggan yang relatif terbatas.

Churn Rate Telekomunikasi di Indonesia

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Priandoyo, diperoleh gambaran peringkat operator telekomunikasi Indonesia di tahun 2007 adalah[2] :

No

Nama Operator

Jumlah Pelanggan

(dalam juta)

Market Share

1.

PT Telekomunikasi Selular

42

53%

2.

PT Indonesian Satellite Corporation Tbk

24.1

23%

3.

PT Excelcomindo Pratama Tbk

10.2

14%

4.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Flexi)

4.1

6%

5.

PT Mobile-8 Telecom (Fren)

2.2

3%

6.

PT Bakrie Telecom (Esia)

2.4

2%

7.

PT Hutchison Indonesia

8.

PT Smart Telecom

9.

PT Natrindo Telepon Seluler

10.

PT Sampoerna Telekom Indonesia

Persaingan dalam industri telekomunikasi relatif ketat mengingat banyaknya pemain dalam industri tersebut. Deregulasi telekomunikasi memungkinkan perusahaan-perusahaan dengan kemampuan sumber daya yang besar untuk memasuki industri telekomunikasi Indonesia dan menjadi pesaing langsung Perseroan dalam menyelenggarakan layanan akses internet dan internet teleponi (VoIP) maupun infrastruktur jaringan telekomunikasi serat optik. Beberapa faktor yang mendasari persaingan usaha dalam industri telekomunikasi adalah cakupan jaringan, tarif layanan, kualitas layanan, ragam layanan yang ditawarkan dan pelayanan purna jual.[3] Dalam hal kegiatan usaha penyediaan produk layanan internet dan internet teleponi dimana jumlah perusahaan pemain cukup banyak, Perseroan tidak hanya akan berhadapan dengan perusahaan-perusahaan yang telah cukup lama berada di industri tetapi juga akan menghadapi persaingan dengan perusahaan-perusahaan yang baru mendapatkan ijin untuk penyediaan layanan tersebut dari Departemen Komunikasi dan Informatika. Menurut definisinya churn rate adalah jumlah total nomor pelanggan yang diputuskan dari jaringan Perseroan baik secara sepihak atau tidak dalam suatu periode dibagi dengan jumlah pelanggan pada akhir periode tersebut, dibagi dengan jumlah bulan dalam periode tersebut, dan dinyatakan dalam persentase. Persaingan-persaingan yang ketat tersebut akan menyebabkan penurunan ARPU, kenaikan Churn Rate dan penurunan pertumbuhan jumlah pelanggan Perseroan. Hal ini dibuktikan dengan adanya tingkat churn rate di Indoneia yang cukup tinggi, yaitu sebesar 26% dalam setahun, sementara yang terjadi di ASEAN rata-ratanya mencapai 15% (AntaraNews).

Untuk mengatasi tingginya churn rate tersebut, maka yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah dengan meningkatkan loyalitas pelanggan dengan berbagai program intensif untuk mempertahankan jumlah pelanggan yang dimilikinya.


[1] PT. CAPRICORN Indonesia Consult Inc., STUDI TENTANG TELEKOMUNIKASI DI INDONESIA, 2008

[3] PT POWER TELECOM Tbk, Dalam Prospektus Awal Tahun 2008

created by me and pu3

Komentar
  1. citrakurniawan mengatakan:

    dengan berbagai macam promosi yang dikeluarkan oleh setiap operator membuat pelanggan lebih sering ganti operator seluler. Seiring dengan naiknya perilaku “switch brand” sehingga entry barrier setiap operator semakin lemah. Customer loyality juga semakin rendah, sehingga churn rate setiap operator juga tinggi. Banyak cara yang dilakukan oleh operator untuk mempertahankan pelanggannya yaitu salah satunya dengan cara membuat program loyalty customer point, dalam hal ini pelanggan yang semakin lama menggunakan operator tersebut maka mendapatkan berbagai macam gimmick dari operator. Semoga perang harga yang dilakukan operator bukan merupakan “predetory price” karena pelanggan skrg sudah mulai bergeser dari “price sensitive customer”

  2. anna mengatakan:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb. saya sangat tertarik dengan tulisan ini, jujur saja saya sedang menyusun skripsi tentang pangsa pasar di industri telekomunikasi. apabila memiliki data tentang jumlah pelanggan perusahaan telekomunikasi di Indonesia kuartal 1 2006 sampai kuartal 2 tahun 2008. jujur saya sekarang sedang bingung karena belum menemukan data tersebut. mohon bantuannya. terima kasih.

  3. abume mengatakan:

    walaikumsalam,,,
    wah semoga lancar ya skripsinya…
    mengenai data pelanggan perusahaan telekomunikasi di indonesia sepertinya agak susah mendapatkannya karena bagi perusahaan data tersebut rentan jika harus dikasih ke sembarang apalagi untuk perusahaan telekomunikasi yang sudah terkenal,, kemaren temen saya ditolak di esia untuk minta data keluhan pelanggan di customer servicenya…

    tapi tetap berusaha yaaa,,,,

  4. ika mengatakan:

    wah iya ya, data pelanggan agak sulit di dapat. kebetulan, tugas akhir saya mengenai pricing. lebih tepatnya usulan tarif suatu operator

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s